Sabar Menemaniku Sampai Sembuh Dari Operasi
Ketika kelas 4 SD sekitar tahun 2004, saya mengalami demam hingga suhu tubuhku menjadi sangat tinggi. Setelah periksa ke dokter ternyata saya mengidap penyakit radang amandel yang parah. Akhirnya aku dan keluargaku sepakat untuk mengoperasi amandelku di dokter spesialis penyakit tersebut. Aku, Ibu, Ayah dan kakak ku menemaniku di kamar tunggu. Sekitar 1 jam menunggu, akhirnya giliranku tiba. Tidak ada yang berani menemaniku ketika di ruang operasi kecuali Ibu. selama operasi mungkin Ibuku sangat cemas, aku tidak mengetahui apa-apa karena aku dibius total.
Ketika sadar, ternyata aku sudah berbaring di ruang tunggu yang tadi. Dan Ibu adalah orang yang pertama kali saya lihat. Aku mencoba bicara,
Aku : (Sebenarnya aku ingin berkata "Mamah") tapi yang terucap hanya "Aaa Aaa Aaa".
Mamah : "Iya sayang, jangan sebut mamah, sebut Allah"
Subhanallah, bagaimana bisa Ibu mengerti apa yang saya katakan, padahal saya tidak mengucapkannya dengan jelas.
Pandanganku masih kabur, dan sedang mencoba mencermati keadaan sekitar. Ternyata Ibu sedang mengelap darah yang keluar dari tenggorokanku. Darah yang keluar dari mulutku sangat banyak dan tenggorokanku terasa ada sesuatu yang hilang / putus sehingga aku tidak bisa bicara.
Tidak sengaja aku melihat ke bawah ranjang tempat aku berbaring, ternyata ada 3 tempat sampah yang berisi tisu dengan bekas darah. Sebanyak itukah darah yang keluar dari mulutku ? dan apakah hanya Ibu seorang yang melakukan ini semua ?, sementara Ayah dan kakakku tidak ada yang berani menemaniku dalam keadaan seperti kambing disembelih, kecuali Ibu. Hingga pulang ke rumah Ibuku lah yang masih sabar menemaniku. Ibulah yang menyuapiku hingga sembuh. Aku belum berani makan sendiri karena tenggorokanku masih terasa sakit, dan hanya makan makanan yang halus. Ibulah yang memberiku semangat, melatihku bicara, dan melatihku untuk bisa makan dengan normal kembali.
Terima kasih Ibu atas semua jasa-jasa mu.
IImam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair, tentang perjuangan seorang ibu
- Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau
mengeluh, tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali
kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang
mengobatimu.
- Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
- Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.